Lebih "Mindful" Mengatur Keuangan Rumah Tangga

Dalam film Confessions of a Shopaholic, diceritakan Rebecca Bloomwood, tokoh utama dalam film tersebut sering berbelanja barang-barang yang tidak terlalu dibutuhkan. Sampai Rebecca terlilit hutang kredit dan dipermalukan di depan umum. Setelahnya Rebecca mulai menyadari dan mengambil jeda untuk merenungi kesalahannya dan memperbaiki. Apakah Ibu pernah mengalami hal yang sama? Berbelanja sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan atau tidak tahu caranya mengatur keuangan? Kalau begitu, ayo Bu belajar mindful.

Pernahkah Ibu mendengar kata 'mindful' atau 'mindfulness'? Mindful bisa diartikan sebagai sadar penuh atau bersikap hati-hati. Sementara mindfulness adalah cara untuk menyadari sepenuhnya apa yang kita lakukan sekarang. Mindfulness bisa berbentuk meditasi dengan menyadari napas. Namun, mindful tidak hanya diaplikasikan dalam bentuk meditasi, dalam manajemen keuangan keluarga, kita perlu banget lho mindful. Ini juga berlaku untuk manajemen keuangan personal maupun bisnis.

ARTIKEL-MEME BU META

Pertama, sebelum merencanakan keuangan, Ibu perlu sejenak melihat gimana sih cara pandang Ibu tentang uang. Apakah ibu dan suami punya konsep perencanaan keuangan yang sama?

Mindset sendiri ada dua yaitu mindset negatif dan positif. Mindset negatif muncul ketika perasaan negatif yang menyertai, misalnya mindset takut kekurangan uang, uang merupakan sumber masalah. Namun, ternyata mindset positif juga tidak selalu baik jika tidak disertai mindful penuh. Ibu pasti bingung nih, kok bisa mindset positif jadi tidak baik? Kita buat contoh, mindset 'selalu cukup' sehingga ibu bisa kalap belanja karena merasa uang 'selalu cukup' dan tidak memperhitungkan kemampuan membayar yang ibu miliki. Sederhananya menjadi “besar pasak daripada tiang” yang artinya besar pengeluaran daripada pemasukan.

Mindset yang benar berada di tengah antara positif dan negatif. Jadi bisa disimpulkan mindset yang dipikirkan secara bijak. Semisal adalah uang itu sebagai alat pendukung untuk meraih tujuan keuangan ibu dan keluarga dan dilakukan secara mindful atau bisa saja mindset dibuat sesuai dengan profil, value, pengalaman hidup dan proses belajar Ibu.

Jurnal ini untuk mengetahui apa sih yang perlu diperbaiki dan dipertahankan dalam merencanakan keuangan, sehingga Ibu makin jago ngambil keputusan. Berikut ini, beberapa catatan yang perlu Ibu buat:

Emosi yang ibu rasakan

Ibu tidak salah baca, kita perlu lho mencatat emosi yang dirasakan. Seperti menuliskan diary, catat hal-hal kecil yang membuat Ibu stres atau yang membuat Ibu bahagia. Misalnya, Ibu stres karena bulan-bulan tertentu, undangan nikahan banyak... jadi Ibu siap-siap isi amplop deh. Ibu bisa catat emosi yang ada lalu di kolom berikutnya catat solusi yang bisa diambil.

Atau ibu merasa bahagia ketika memberikan kado yang spesial untuk anggota keluarga. Supaya tidak mendadak membeli, Ibu bisa mengalokasikan dana khusus untuk membeli kado.

Mencatat emosi Ibu juga bermanfaat untuk menghindari perilaku konsumtif. Bisa jadi ketika Ibu marah lalu membelanjakan uang tanpa berpikir panjang. Atau saat belanja mall karena lihat ada diskon besar, Ibu jadi laper mata. Dengan mengambil jeda, Ibu tidak mengaitkan emosi dengan konsumsi sehingga rencana keuangan bisa terjaga.

Kebutuhan vs keinginan

Kebutuhan bisa diartikan sebagai sesuatu (bisa berupa barang atau jasa) yang jika Ibu tidak membelinya maka aktivitas Ibu atau keluarga menjadi terganggu. Bisa jadi kebutuhan setiap orang berbeda. Semisal, jika Ibu seorang content creator dan membutuhkan kamera yang lebih jernih untuk pekerjaan, maka ini masuk kebutuhan. Berbeda jika pekerjaan ibu tidak membutuhkan kamera, maka membelinya termasuk keinginan.

Contoh lain, Ibu perlu membeli tas yang lebih besar karena barang yang dibawa banyak, ini disebut kebutuhan. Tapi jika Ibu membeli tas sementara tas di rumah sudah banyak, ini termasuk keinginan.

Kita perlu mencatat daftar barang yang ingin dibeli dan secara sadar sepenuhnya membedakan mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang merupakan keinginan.

Mindful meme 2 - inr.jpg

Tujuan keuangan

Seperti yang tertulis dalam poin 2, yang membedakan kebutuhan dan keinginan adalah tujuan membeli. Ibu Prita Hapsari Ghozie dari Zapfinance mengatakan bahwa tujuan keuangan dibatasi hanya untuk 3-5 tujuan. Jadi, beberapa kebutuhan ibu dipilih maksimal 5 yang penting dan mendesak dan ini akan menjadi prioritas keuangan Ibu. Prioritas keuangan akan menjadi tolak ukur ketika suatu saat nanti Ibu tergiur untuk membeli di luar prioritas. Tapi pastikan bahwa motivasi atau tujuan ibu membeli atau berinvestasi sesuatu memiliki tujuan atau 'strong why'. Misal, membeli mobil untuk mobilitas keluarga dan sebagainya.

Sedikit berbicara tentang investasi keuangan keluarga, maka investasi perlu dilakukan juga secara mindful. Kita perlu mengambil jeda atau waktu untuk menelaah emosi yang muncul, apakah hanya ikut-ikutan atau dipikirkan secara matang. Selain itu, kita perlu mengetahui profil kita dalam mengambil resiko, memilih produk secara rasional, paham strategi investasi dan yang paling utama apa tujuan investasi Ibu.

Rencana pembayaran

Ambil jeda untuk Ibu memikirkan secara penuh tentang kemampuan membayar. Apakah secara tunai atau menyicil? Atau bisa dengan tabungan?

Untuk idealnya, para ahli keuangan memberikan saran untuk menyisihkan 20 persen dari penghasilan untuk ditabung. Tapi, mungkin Ibu akan merasakan kesulitan menyisihkan uang untuk ditabung. Mungkin ada faktor pandemi, ekonomi sedang tidak baik, atau uang belanja yang mepet. Kita kembali ke mindset tentang menabung. Kita perlu mengubah mindset 'menabung itu berat' dengan mindset 'menabung itu menyenangkan'. Tapi tentu saja tidak serta merta karena uang belanja yang mepet kita paksakan 20 persen untuk ditabung. Lalu, harus bagaimana?

Gak masalah kok, kalau menabung setiap hari sebesar lima ribu rupiah. Yang kita bangun di sini adalah habit untuk menabung. Satu persen untuk menabung itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Ketika kebiasaan ini terbangun, maka tabungan bisa ditingkatkan sesuai kemampuan Ibu menabung. Dengan begitu menabung jauh lebih ringan dan menyenangkan.

Rasa syukur

Bersyukur atas hari yang sudah dilalui juga perlu dicatat untuk memberikan perasaan positif. Rasa syukur ketika barang yang kita butuhkan terbeli atau sesederhana sudah menabung secara rutin selama sebulan. Selain hasil, kita perlu juga menghargai sebuah proses. Kerja keras Ibu setiap hari akan lebih indah jika ditutup dengan rasa syukur. Dan ini bisa menjadi bagian dari journaling.

Journaling 5 hal ini ini agar mindful mengatur keuangan ruamah tangga.png

Kita perlu menyadari bahwa mengatur keuangan keluarga tidaklah mudah namun sangat penting dilakukan. Oleh karena itu jika masih ada kegagalan maka yang perlu kita lakukan adalah memperbaiki dan belajar dari kesalahan. Dengan melakukan jurnal uang, kita bisa melihat value, mimpi dan juga harapan Ibu. Prosesnya bisa dimulai dari yang paling mudah dilakukan yaitu mulai mencatat dengan kesadaran penuh, melihat hal-hal yang penting untuk Ibu. Buatlah tujuan yang kuat dan berarti untuk Ibu dan keluarga. Buat prioritas dan strategi untuk mencapainya lalu diakhiri dengan rasa syukur. Membuat jurnal uang ternyata banyak manfaatnya ya Bu, Ayo dipraktekkan supaya lebih mindful dalam mengatur keuangan."

Mindful dimulai dari alokasi dana yang terukur dan Sistem Pocket dari Jago bisa banget ngebantu Ibu lho.

Biar makin jago atur keuangan, nih ada bacaan berikutnyakhusus untuk Ibu!



Share:

Artikel Terkait

Jago Keluarga - Dec. 15, 2021

Ibu Jagoan Atur Keuangan Tanpa Boros

Baca selengkapnya >
Jago Keluarga - Nov. 17, 2021

Mengajarkan Anak Literasi Finansial, Mulai dari Mana, Ya?

Baca selengkapnya >
Cek Artikel Serupa

Comments

Add a Comment




Berlangganan

Jangan kelewatan artikel dan berita terbaru agar #Ibumakinjago ngatur cuan, jalanin bisnis, dan ngurus keluarga.

© 2021. Persembahan Ibu Punya Mimpi dan Bank Jago